Efek Penggunaan kacamata 3D Untuk Kesehatan Mata

Dewasa ini banyak sekali produser film yang menciptakan karya mereka untuk dapa disaksikan secara 3 D, dan tidak jarang orang orang menyukainya. Karena disamping kita dapat melihat secara real kita juga dapat merasakan hal yang terjadi didalam film itu secara langsung. Tapi, efek buruk mengenai keberadaan teknologi 3 Dimensi (3D) terus dikemukakan oleh para ilmuwan. Dibalik kecanggihannya, gambar 3D disinyalir dapat mengakibatkan terganggunya proses penglihatan.

Para peneliti di eindhoven University Belanda, menyimpulkan bahwa televisi/ tayangan 3D dapat mengacaukan fungsi kerja otak sehingga menimbulkan ketegangan pada mata, sakit kepala, dan mual. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah efek 3D mempunyai pengaruh buruk untuk kesehatan mata. Faktanya menonton TV saja dalam waktu yang lama dapat melemahkan mata, dan menuat otot2 mata menjadi tegang. Disinyalir dengan penggunaan efek 3 D, mata kita dapat menjadi tegang 3 x lipat lebih dari penggunaan normal. Penelitian ini didasarkan pada survei yang dilakukan oleh 39 orang relawan. Mereka diminta membaca teks di layar TV berformat 3D dengan jarak 10 meter. 7 orang diantaranya merasakan mual saat membaca. Demikian juga dari segi penglihatan, terjadi penglihatan ganda dan keteggangan mata.Para relawan diminta menonton televisi menggunakan 2 cara, yang pertama menonton televisi dengan 3 D aktif (menggunakan kacamata khusus dengan tenaga baterai, yang dapat mensinkronisasikan tampilan gambar TV secara nirkabel) dan kelompok lainnya menggunakan 3D pasif (bergantung pada polarisasi khusus filter di TV untuk membagi gambar ke kkomponen mata kiri dan kanan.

Penemuan bahwa menonton 3D bisa berdampak buruk bagi mata kita berasal dari kenyataan bahwa tenologi ini menunjukkan inkonsistensi dengan realitas. Biasanya ketika kita melihat dekat, mata kita kan berkonvergen, dan saat melihat objek yang jauh mata kita berdivergen. Bentuk lensa kita juga akan mengalami akomodasi sehingga gambar akan difokuskan untuh jatuh tepat pada retina sehingga kita dapa melihat objek dengan jelas. Hal ini tidak terjadi saat lkita menonton tayangan 3D.

Kacamata 3D bekerja dengan memanfaatkan sistem penglihatan binocular yang dimiliki manusia. Ia menggabungkan 2 gambar berbeda yang akan bersatu ketika memasuki mata kita ddan akan menghasilkan sensasi seperti hidup. Sistem penglihatan binocular memungkinkan manusia untuk melihat dari 2 perspektif berbeda hanya dengan merubah fokus penglihatan walaupun dari jarak yang sama. Otak memiliki kemampuan untuk mengkorelasikan dan memperkirakan posisi, jarakm dan kecepatan melalui impuls yang didapat dari sistem binocular mata.

Ketika kita menonoton tayangan 3D, mata kiri melihat satu gambar dan mata kanan melihat ga,bar lainnya. Otak menggunakan efek ini untuk mengahsilkan gambar 3D. Merupakan pengalaman sensorik yang baru. Saat melihat tayangan 3 D, proses konvergensi dan divergensi bertentangan dengan faktor akomodasi. Hal ini dikareakan mata mengakomodasi dengan berfokus pada sumber cahaya pada satu jarak, tetapi pada waktu yang sama, proses konvergen dan divergen pada jarak lain untuk melihat gambar 3 D tergantung pada posisinya dalam ruang. Contohnya adalah apabila kita menonton dari jarak sekitar 5 meter, mata akan berkonvergen untuk jarak 5 meter. Ketika posisi kita menyimpang dalam ruangan, maka mata akan berkonvergen untuk jarak 3 meer. Akan ada pengalaman menangkap kualitas gambar yang sama dimanapun posisi kita berada walaupun kedua mata kita berbeda konvergen. Masalah ini terbukti dengan banyak kasus dimana banyak orang mengalami gejala seperti sakit kepala, mual, mata lelah, mabuk, bahkan disorientasi setelah menonton tayangan 3 D. Oleh karenanya sebaiknya intensitas dan penggunaan tayangan 3 D harap untuk dibatasi, sebab mengakibatkan kelainan yang serius di kemudian hari khususnya pada anak anak yang masih dalam fase perkembangan otak seiring bertambahnya usia.

Perkembangan Kacamata Jaman Sekarang

Konon, kacamata adalah salah satu benda terpenting yang pernah ditemukan manusia sejak mereka menemukan api dan roda. Untuk sampai ke bentuknya sekarang, kacamata mengalami perkembangan yang panjang. Dari awal sebagai “batu baca” hingga bertransformasi menjadi gaya hidup dan aksesori mode.

Sulit membuktikan siapa penemu kacamata yang asli. Banyak yang menunjuk Benjamin Franklin sebagai penciptanya. Namun, sebenarnya ide tentang kacamata sudah ada sekira 400 tahun sebelum 1700-an, ketika Franklin mulai aktif.

Batu Zamrud Kaisar Nero

Benda yang difungsikan sebagai kacamata yang pertama kali diketahui digunakan oleh Kaisar Nero dari Roma yang berkuasa pada 54 sampai 68 M. Dia menggunakan batu zamrud ketika sedang menyaksikan pertandingan gladiator. Namun, tak diketahui dengan pasti apakah itu artinya sang kaisar memang memiliki masalah dengan penglihatannya atau dia hanya sekadar menghindari silaunya sinar matahari.

Potongan Bola Kaca

Sarjana dan astronom Irak, Ibn al-Haytham (sekitar 965-1040 M) dikenal sebagai orang yang berkutat dalam penelitian mengenai cahaya dan mekanisme penglihatan. Dia mempelajari lensa, bereksperimen dengan cermin yang berbeda: datar, bulat, parabola, silindris, cekung dan cembung. Hasilnya, dia menemukan kalau objek visual yang dilihat melalui pembiasan cahaya, yaitu yang melintasi material tebal seperti air dan kaca, lebih besar dari ukuran sebenarnya.  

Pada sekira 1027, al-Haytham menyelesaikan bukunya, Kitab al-Manazir atau Buku Optik. Dia pun menyarankan kaca yang dihaluskan dapat membantu seseorang yang menderita gangguan penglihatan. Namun, idenya itu baru dipraktikkan bertahun-tahun kemudian.

Kaca Pembesar

Pada abad ke-13, sarjana Inggris Roger Bacon (1214-1294) menulis soal kaca pembesar. Dia menjelaskan bagaimana memperbesar objek visual menggunakan potongan bola kaca. Dia menulis: “karena alasan ini, alat ini berguna untuk orang tua dan orang-orang yang memiliki kelemahan dalam penglihatan mereka karena memungkinkan mereka untuk dapat melihat huruf sekecil apa pun.” 

Beberapa sejarawan sains berpendapat Bacon mendapatkan gagasannya dari buku Ibn Al-Haytham, Kitab al-Manazir. Pasalnya, gagasan menggunakan bola kaca agar bisa melihat benda kecil sudah dikenal sejak percobaan penelitian Ibn Al-Haytham. Namun, menurut bukti yang tersedia, ide menggunakan kaca pembesar ini untuk membaca pertama kali disebutkan dalam buku Bacon. Kendati tak ada bukti dia menerapkan pengetahuannya itu.

Kacamata Beryl

Kacamata pertama kali dikenal di Eropa pada akhir abad ke-13 M. Lukisan-lukisan mulai memperlihatkannya pada pertengahan abad ke-14 M. Dalam lukisan-lukisan itu digambarkan bentuk kacamata dengan dua lensa bulat dalam bingkai yang disambung dengan poros dan gagang logam berbentuk “V”. Tak ada gagang untuk disangkutkan ke telinga seperti kacamata masa kini. Mereka sudah memakainya untuk membaca. Pada masa itu, lensa bukan terbuat dari kaca, tapi dari mineral Beryl.

Contoh kacamata ini seperti yang dipakai kardinal Hugh of St. Cher dalam lukisan karya Tommaso ad Modena pada 1352 di dinding gereja di Treviso. Ini adalah representasi gambar kacamata tertua yang diketahui hingga kini.

Lorgnette

Lorgnette, yang merupakan sepasang kacamata mungil dengan pegangan. Lorgnette berasal dari kata lorgner dalam bahasa Perancis, yang berarti “melirik” atau “mengawasi secara sembunyi-sembunyi”. Lorgnette diyakini telah diciptakan pada 1770 oleh orang Inggris, George Adams I (1709-1772), kemudian diilustrasikan putranya dalam Essay on Vision (1789 dan 1792) di mana lorgnette digambarkan sebagai ‘semacam pengganti kacamata …’.

Kemudian, alat bantu optik ini adalah jawaban bagi perempuan pada abad ke-19 yang membutuhkan kacamata tetapi tidak ingin benar-benar memakainya. Sampai abad ke-17, alat bantu optik lebih banyak dipakai kaum pria. Namun, lorgnette membuat perempuan lebih berminat dalam dunia kacamata. Benda ini pun diyakini menambah kesan elegan bagi kalangan atas. Perempuan memakai lorgnette pun menjadi pemandangan umum selama abad ke-19 di teater serta opera. Lorgnette muncul dalam bentuk yang lain, yaitu kipas lorgnette. Adalah Marie Antoinette, ratu Prancis abad ke-18 merupakan penggagas gaya ini.

Kacamata Bifokal

Kacamata bifokal adalah kacamata dengan dua bagian di lensanya. Bagian atas untuk melihat jarak jauh, bawah untuk membaca. Benjamin Franklin, seorang ilmuan Amerika pada 1784 adalah penciptanya. Kacamata jenis ini biasanya diresepkan untuk orang yang menderita presbiopia, kondisi yang ketika itu diderita Franklin.

Kacamata Berlensa Satu (Monocle)

Kacamata berlensa satu digunakan dengan cara dipasang pada rongga mata pemakai dan biasanya digantung di leher dengan tali, pita, atau rantai. Banyak dari kacamata ini awalnya dibingkai dengan logam, kulit penyu, atau tanduk.

Monocles diperkenalkan pada abad ke-18, tetapi makin mendapat sorotan pada abad ke-19 di Eropa. Ia menjadi bagian umum dari pakaian pria kaya. Kacamata ini sering dipasangkan dengan topi dan mantel.

Salah satu pemakainya yang paling awal yang diketahui adalah penyuka barang antik dari Prusia, Philipp Von Stosch yang mengenakan kacamata berlensa di Roma pada tahun 1720-an. Ia mengenakannya untuk memeriksa ukiran dan permata berukir. Awalnya disebut cincin mata, kacamata ini segera menyebar ke Austria berkat seorang ahli kacamata, JF Voigtlander, yang mulai membuatnya di Wina pada sekira 1814. Mode ini dengan cepat populer di Inggris dan Rusia.

Monocles kemudian menjadi tidak disukai di sebagian besar Eropa barat dan Amerika Serikat selama Perang Dunia I (1914-18). Itu ketika kacamata ini dikaitkan dengan perwira militer Jerman yang sering digambarkan memakainya.

Pince-nez

Kacamata pince-nez menutupi kedua mata. Namanya berasal dari bahasa Prancis, pincer berarti “mencubit” dan nez berarti “hidung.”. Kacamata ini memang menjepit pangkal hidung ketika di pasang di depan mata. Mengenakan kacamata ini sangat tidak nyaman bagi sebagian orang yang tidak memiliki bentuk hidung yang pas. Karenanya, kacamata ini sering digantungkan dengan rantai di leher sehingga pengguna tidak perlu memakainya sepanjang hari. Meski kacamata ini sudah mulai dipakai di Eropa sejak abad ke-15, ke-16, hingga ke-17, tetapi menjadi makin popular pada 1880 sampai 1900.  Anton Pavlovich Chekhov, penulis besar Rusia, adalah salah satu yang terkenal mengenakan kacamata jenis ini.

Kacamata Warna-wani

Pada 1930-an kacamata hitam menjadi populer untuk pertama kalinya. Diawali pada 1913 oleh Sir William Crookes dari Inggris yang menciptakan lensa berkemampuan menyerap sinar ultraviolet dan inframerah. Pada 1940-an, kemajuan dalam pembuatan plastik membuat berbagai macam kacamata tersedia dalam setiap warna pelangi. Perempuan banyak mengenakan kacamata berbingkai runcing di bagian ujung atasnya, yang sangat populer hingga akhir 1950-an. Sementara pria cenderung menggunakan bingkai kawat emas.

Kacamata Berlensa besar

Pada paruh kedua abad ke-20, kacamata dianggap sebagai bagian dari pakaian seseorang. Mirip dengan pakaian, kacamata perlu terus diperbarui atau seseorang dapat dianggap kuno. Semakin banyak selebritas yang memengaruhi mode kacamata. Misalnya pada 1970-an, Jacqueline Kennedy Onassis, ibu negara AS pada 1961-1963, juga ikut mempopulerkan lensa besar.

Lensa Plastik

Sejak 1980-an inovasi menghasilkan lensa plastik berkualitas tinggi. Bahan plastik dianggap lebih ringan dan lebih aman untuk dipakai dibanding kaca.

7 Sikap Yang Harus Kamu Miliki Agar Orang Gampang Percaya Padamu

Jika kamu ingin orang yang berada disekitarmu percaya dengan apa yang kamu lakukan, maka cobalah untuk memiliki 7 sikap yang akan dibahas dalam artikel ini.

1. Bisa menjaga rahasia

Ini merupakan syarat mutlak bagi kamu yang ingin dipercaya oleh orang lain. Sebab jika kamu bisa mendengar sebuah rahasia dari seseorang, itu tandanya orang tersebut ingin mengetahui apakah kamu bisa menjaga rahasia yang mereka ceritakan padamu atau tidak. 

2. Mau mengakui kesalahan

Yup, kamu yang berani mengakui kesalahan artinya kamu memiliki sikap yang rendah hati dan siap untuk menerima konsekuensi dari kesalahan yang dilakukan dan bukan sebaliknya. Dan mereka yang melihat sikapmu ini pasti akan memujimu dan mendukungmu untuk memperbaiki kesalahanmu, perlahan kamu pun mendapatkan kepercayaan mereka. 

3. Jujur dalam perkataan dan perbuatan

Dalam hal ini, kamu harus menjadi orang yang konsisten. Apa yang kamu katakan harus selaras dengan yang kamu lakukan, karena kebenaran dari perkataanmu terwujud dalam tindakan yang kamu lakukan. Cobalah untuk selalu jujur dalam perkataan dan tindakanmu, sebab mereka yang berada disekitarmu yang akan merasakan dampaknya. 

4. Tidak membicarakan orang di belakang

Jika kamu ingin menjadi orang yang dapat dipercaya, hindari kebiasaan membicarakan orang dibelakang karena ini sama saja kamu sedang bergosip. 

Saat kamu tidak menyukai salah satu sifat seseorang, berusahalah untuk berterus terang kepada orang itu secara pribadi. Dengan begitu, kamupun bisa lebih mengenalnya dan menemukan solusi dari ketidaksukaanmu terhadapnya.

5. Tidak menghakimi orang

Perilaku menghakimi biasanya muncul ketika mengetahui suatu kesalahan yang diperbuat oleh seseorang. Jangan takabur dengan langsung menghakiminya ini dan itu, karena suatu saat kamu pun bisa saja berbuat seperti itu. 

Daripada menghakimi, lebih baik kamu mengajaknya bicara terang-terangan mengapa orang tersebut sampai berbuat seperti itu dan memberikan saran serta solusi agar dia tidak mengulanginya kembali.

6. Selalu tulus dalam bertindak

Dimanapun kamu berada, berusahalah untuk menjadi orang yang tulus dalam setiap perbuatan, baik itu tindakan yang kecil seperti membuang sampah sembarangan pada tempatnya, terlebih tindakan besar yang terlihat oleh banyak orang.

Jika kamu benar-benar melakukan hal ini dalam keseharianmu, maka orang-orang yang berada di sekitarmu akan merasakan ketulusanmu dan dengan begitu kamu pun mendapat kepercayaan mereka.

7. Menghargai orang lain

Tidak perduli siapapun kamu, apa pun jabatanmu di kantor atau prestasi yang telah kamu raih, jika ingin menjadi seorang yang dapat dipercaya kamu harus bisa menghargai orang lain. Dengan menghargai orang lain, kamu akan menjadi pribadi yang lebih bijak dalam berelasi dan diam-diam kamu sudah mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang memperhatikanmu. 

Tampil Stylish di Saat Lebaran

Pakaian serba putih dengan paduan gamis putih panjang dan juga hijab panjang menjadi gaya andalan dan juga pakaian tradisional di hari lebaran. Umumnya, pakaian itu hanya bertahan hingga selesai solat Ied, selanjutnya, untuk berkunjung ke rumah sanak keluarga, biasanya orang-orang cenderung mengganti pakaian yang lebih nyaman untuk beraktivitas, sifatnya pun lebih casual tapi tetap menjaga sisi chic-nya.

Hari Lebaran merupakan hari untuk menjalin silaturahmi kembali bersama keluarga. Nggak mau dong pakai pakaian yang biasa-biasa saja? Terlebih lagi jika tau bahwa punya saudara yang ganteng. Duh, wajib tetap kece deh!

Jangan khawatir, ShopBack akan memberikan tips memadupadankan baju Lebaran yang modis untuk Idul Fitri tahun ini.

1. Jumpsuit

Suka bergaya santai? Coba tengok koleksi jumpsuit-mu. Jumpsuit panjang dengan motif floral atau polos dapat menjadi gaya andalanmu untuk beraktivitas di Hari Raya. Motif floral adalah tren yang sayang untuk dilewatkan, gayamu akan semakin in di Hari Lebaran.

Untuk Anda yang berhijab, kenakan hijab dengan warna polos dengan gaya yang santai. Dan seperti tampilannya yang fun, gaya ini cocok sekali untuk kamu para remaja, serta perempuan yang berjiwa muda.

2. Long outerwear

Mau penampilan yang lebih formal untuk berkunjung ke kediaman sanak keluarga namun tak terlihat berlebihan? Mudah saja, padukan culottes polos favorit dengan atasan kemeja, serta tambahkan outerwear panjang.

Outerwear panjang ini masih menjadi item favorit untuk wanita berhijab maupun tidak lho. Untuk kesan yang formal, kamu bisa memilih vest panjang, jika menyukai untuk tampil lebih sederhana, kamu dapat mengenakan kardigan panjang saja.

3. Printed overall

Saat ini, item yang tadinya lebih dikenal menggunakan materi denimnya ini menjadi item favorit para fashionista. Awalnya memang berasal dari overall denim panjang, namun seiring perkembangan dan berbagai eksperimen, overall bisa masuk ke fashion hijabers, dengan beberapa penyesuaian cutting dan motif.

Untuk tampilan yang lebih fashionable, Anda dapat memakai overall panjang di Hari Raya nanti. Dengan berbagai pilihan motif yang menarik tentunya. Kotak-kotak dan garis-garis berwarna hitam putihlah yang kini masih menjadi pilihan terbaik.

Cukup padukan dengan kemeja putih tangan panjang dan hijab senada, Anda akan tampil stylish di Lebaran nanti.

4. Gamis minimalis

Umumnya, gamis menjadi item wajib untuk dikenakan di Hari Lebaran. Namun, bagi perempuan yang lebih muda umumnya tidak menyukai item ini karena membuat mereka menjadi terlihat lebih tua. Memang benar, karena pada dasarnya, baju gamis didesain untuk para muslimah yang mengenakan hijab untuk menutupi bagian hingga bentuk tubuhnya sehingga dibuat berukuran lebih besar daripada tubuhmu.

Nah, sekarang ini, banyak desain gamis yang disesuaikan untuk para remaja yang dapat menutupi aurat sekaligus menyembunyikan bentuk tubuh namun tetap memberikan kesan yang stylish, serta tetap tak terlihat tua.

Image: Cantik.com

Dengan paduan dua warna tanpa motif, gamis ini dapat membuatmu tampil fashionable di Hari Lebaran. Mengingat tema dan warna sekarang masih berpacu pada simplicity dan monochromic, ada baiknya Anda memilih gamis berwarna netral paduan hitam putih dengan desain yang simple.

5. Lace dress

Diundang makan malam dengan vibe yang fancy di Hari Lebaran? Tenang saja, kamu tetap dapat tampil maksimal dengan paduan khas busana muslim.

Gaun berbahan lace perpaduan warna hitam dengan coklat ini cocok untuk dipakai ke acara formal. Untuk kamu yang berhijab, cukup kenakan manset atau inner top tangan panjang berwarna hitam untuk menutupi lubang dari bahan lace tersebut.

Serta kenakan hijab yang polos dengan warna senada juga. Selain formal dan cocok dipadukan di Hari Raya, bahan lace juga dapat mempercantik penampilan, terutama bagi kamu yang ingin bergaya feminin.

6. Motif etnik

Motif etnik adalsah salah satu motif yang tidak pernah ketinggalan jaman. Motif ini bisa menjadi gaya andalan untuk Lebaran tahun ini. Berkunjung ke rumah sanak keluarga dengan gaya ini tidak akan terlihat ketinggalan jaman.

Jangan takut untuk nge-mix and match gaya baju di Hari Lebaran nanti. Manset dan inner top mudah didapatkan, sehingga pada dasarnya, kamu bisa bereksperimen untuk menjadikannya pakaian yang hijab-friendly.